pemeriksaan kromosom

Nomor tidak dikenal.

“Bun, mengenai request pemeriksaan kromosom janin. Begini, jaringan dedenya ga bisa diperiksa. Ada indikasi terkontaminasi bakteri”, suara dari seberang telepon itu sukses membuat dada sesak.

Hari ini, 2 minggu berlalu dari tanggal 24 juni 2015.
Masih segar di ingatan, masih penuh rasanya dada ini.

Kehilangan (calon) bayi yang seminggu sebelumnya dalam keadaan sehat dan berdetak. Yang seminggu sebelumnya ada di sebelah kiri rahim, lalu pemeriksaan kali itu sudah berada di kanan rahim. Pecicilan yah anak, mungkin mirip ayahnya. Janin yang anggota tubuhnya mulai terbentuk namun tidak lagi terdengar detak jantungnya, tidak lagi terlihat gerakannya.

“Bunda habis jatuh? Ga yah.” Tanya dokter, yang pasti sudah tau jawaban seorang pasien yang sudah pernah kehilangan sebelumnya. Jangankan jatuh, terbentur kasur pun kami hindari dok. Ga ada flek atau kram perut.

Segala pemeriksaan lab dilakukan. Ambil saja darahku sesukamu suster, semoga kali ini ada hasil yang melegakan dari rangkaian tes darah ini. Bukan mengharap penyakit sih.. cuma bingung! Tes A, hasil ok. Tes B, hasil negatif. Tes C, hasil masih dalam range normal. Tangan kanan, tangan kiri, telinga. Mana lagi yang perlu diambil darah, monggo.

“Kita periksa si dede ya. Pemeriksaan kromosom.” Langkah gontai keluar dari ruang periksa kandungan, terbayang kuretase. LAGI! Sakit kah? Kali kedua ini rasanya super, lahir dan batin. For about 12 hours during contraction. It was so painful! Tornado, halilintar, ontang anting, kora kora, lewaaat. And ya.. I Love my mom so much.

Sabar ya sayang…
Maaf.. tanganmu, kepalamu, badanmu harus disentuh sebelum waktunya, sampai bakteri merusak pemeriksaan atasmu 😥 Kita lanjutkan pemeriksaan selanjutnya, dengan metode berbeda. Semoga penyebab fetal death (rd. kematian mudigah) ini segera diketahui.

Ayah, anakmu butuh tanda tangan. Yuk ke rumah sakit. Zaidan (rd. Kakak bayi 2)  mau diperiksa lagi :’)
Ibu kangen kamu, nak.

@anyseptiani

Shalihkan orangtuamu

Banyak dari kita yang aktif di komunitas, organisasi, atau wadah sosial lainnya. Jiwa muda ini seolah tidak pernah kehabisan tenaga untuk menebar manfaat bagi lingkungan. Sibuk berbagi di luar bukan berarti lalai terhadap keluarga, terutama orang tua. Sejatinya, merekalah prioritas utama yang berhak mendapat perhatian kita.

Idealnya, pengetahuan anak mengenai agama dan akhlak ditanamkan oleh orang  tua sejak usia dini. Pemahaman mengenai siapa pencipta alam semesta (termasuk manusia), untuk apa manusia diciptakan, dan kepada siapa kita akan kembali sangat penting sebagai pondasi iman anak. Namun, terkadang keterbatasan orang tua, baik dalam hal waktu atau pemahaman mengenai agama, membuat mereka mempercayakan pendidikan akhlak anak kepada orang lain. Bagi ayah dan ibu yang sibuk di luar, tolong carikan kami guru ngaji yang tepat ya.

mengaji

Dengan bertambahnya usia, pemahamanmu terhadap Islam semakin membaik. Terlebih saat ini banyak sekali kajian yang mengupas ajaran Islam, bahkan tidak jarang bebas biaya. Kebutuhan akan ketenangan jiwa dirasa lebih utama dibanding dengan nominal rupiah yang dikejar selama ini. Semakin tinggi kesadaran masyarakat untuk menuntut ilmu agama diimbangi dengan semangat dakwah para ustadz untuk terus berbagi. Alhamdulillah.

Tidak ada setitik keraguan pun atas kemampuanmu berbagi pengalaman dan ilmu dengan lingkungan. Kuharap kau ajak serta keluargamu mengejar surga Allah. Tidak jarang orang tua kita pun ingin menimba ilmu, namun rasa malu menghalangi niat mereka. Di sinilah kepekaan dan kedewasaan kita dilatih. Jadilah teman berbagi untuk orang tuamu tanpa rasa menggurui.

ibu mengaji

Shalihkanlah orang tuamu sebagaimana kerasnya usahamu mengejar shalihmu. Anakmu ingin bersama-sama dengan kalian menggapai ridho Allah.

Ayah, Ibu, izinkanku membersamai kalian menggapai shalih[ah]mu. Uhibbukum fiLlah. – @anyseptiani